Fenomena 'Desain Canva': Semua Orang Bisa Jadi Desainer, Lulusan DKV Nganggur, Ini Kata Senior
Uncategorized

Fenomena ‘Desain Canva’: Semua Orang Bisa Jadi Desainer, Lulusan DKV Nganggur, Ini Kata Senior

Lo kuliah DKV 4 tahun. Bayar SKS tiap semester. Ngerjain tugas sampe begadang. Belajar teori warna, hirarki visual, tipografi, komposisi, filosofi desain, sejarah seni, dan ribuan hal lain yang bikin kepala pusing.

Lulus, lo siap bersaing di industri kreatif. Udah siap portfolio. Udah siap mental.

Tapi pas lo buka job portal, lo lihat lowongan: “Dibutuhkan desainer grafis. Bisa Canva.”

Lo lirik lagi: “Gaji 3,5 juta.”

Lo buka Instagram, nemu akun jasa desain: “Desain logo cuma 50 ribu. Cepet, murah, pake template.”

Lo buka TikTok, viral video: “Cara bikin desain keren pake Canva cuma 5 menit. Nggak perlu bisa desain!”

Di kolom komentar: “Makasih kak, jadi bisa buka jasa desain walau nggak sekolah desain!”

Lo cuma bisa diem. Hati panas. 4 tahun kuliah, ratusan juta, ilmu bertumpuk, tapi harus bersaing sama orang yang belajar desain dari tutorial TikTok dan template Canva.

Ini fenomena yang lagi viral banget di kalangan kreator. #DesainCanva dan #DKVNganggur jadi trending. Ribuan lulusan DKV pada curhat: mereka susah cari kerja, sementara desainer Canva (yang nggak punya latar belakang desain) banjir order.

Gue sendiri punya adek kelas DKV yang ngalamin ini. Dia cerita dengan mata berkaca: “Bang, gue lamar 50 perusahaan, cuma 5 yang panggil. Itu pun gajinya di bawah UMR. Sementara temen SMA gue yang cuma les Canva seminggu, udah bisa beli motor dari hasil jasa desain.”

Gue penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Canva sejahat itu? Apakah kuliah DKV udah nggak relevan? Atau ada yang salah dengan cara pandang kita?

Gue ngobrol sama 3 lulusan DKV yang lagi struggle, 1 desainer Canva tanpa latar belakang formal, 1 senior creative director, dan 1 pengamat industri kreatif. Hasilnya? Bikin gue mikir ulang soal masa depan desain.


Kasus #1: Sasa (24, Lulusan DKV) — “Gue Lamaran 50 Kali, Cuma 5 yang Panggil”

Sasa lulus tahun 2024 dari salah satu universitas swasta di Bandung. IPK 3,6. Portfolio isinya 20 proyek, dari branding sampai editorial. Nilai bagus. Skill mumpuni.

Tapi setelah setahun lulus, dia masih nganggur.

“Gue udah kirim lamaran ke mana-mana. Startup, agency, corporate, bahkan UMKM. Yang bales dikit. Yang panggil wawancara cuma 5. Dan semuanya nawarin gaji 3-4 juta.”

Gue tanya: “Padahal UMR berapa?”

“Di Jakarta minimal 5 juta. Tapi mereka bilang: ‘Kami bisa dapet desainer lepas dari Fiverr cuma 200 ribu per project. Jadi maaf, gaji segitu udah maksimal.'”

Sasa frustrasi. Dia buka jasa desain sendiri. Tapi saingannya banyak.

“Di Fiverr, orang jual desain logo 100 ribu. Di Instagram, ada yang jual 50 ribu. Pakai template Canva, jadi cepet. Gue nggak bisa saingin harga segitu. Karena gue ngerjain dari nol, riset dulu, sketsa, baru eksekusi. Itu butuh waktu.”

Gue tanya: “Lo nggak mau pake Canva?”

Sasa geleng. “Bukan nggak mau. Tapi gue merasa: kalau gue pake Canva, apa bedanya gue sama mereka? Ilmu yang gue pelajari 4 tahun jadi sia-sia. Dan klien yang pengen desain ‘berkelas’ biasanya nggak bakal milih template.”

Momen menyedihkan: “Ada temen SMA gue, nggak kuliah, les Canva 3 bulan. Sekarang dia buka jasa desain, orderan rame, bisa beli motor. Gue kadang iri. Tapi gue juga sedih: apa iya 4 tahun kuliah gue nggak berarti?”

Data point: Menurut survei di grup alumni DKV, 60% lulusan 2023-2024 belum mendapat pekerjaan tetap di bidang desain. 40% beralih profesi ke bidang lain.


Kasus #2: Riko (22, Desainer Canva Otodidak) — “Gue Nggak Sekolah Desain, Tapi Orderan Rame”

Riko lulus SMA, nggak kuliah. Dia belajar desain dari YouTube dan TikTok. Sekarang dia jual jasa desain di Instagram dan Fiverr.

“Gue mulai 2 tahun lalu. Awalnya bikin konten di TikTok: ‘Tutorial bikin feed Instagram pake Canva’. Videonya viral, 500 ribu views. Orderan mulai masuk.”

Sekarang Riko punya 20-30 order per bulan. Harga per project: 200-500 ribu. Penghasilan 8-15 juta per bulan.

Gue tanya: “Lo nggak pernah sekolah desain, nggak masalah?”

“Klien gue kebanyakan UMKM, anak muda yang mau buka usaha, atau orang yang butuh desain cepet. Mereka nggak peduli soal teori warna atau tipografi. Yang penting keliatan keren, cepet, dan murah. Canva bisa ngasih itu.”

Gue tanya: “Lo tau nggak kalau desain lo mungkin nggak secara teknis sempurna?”

Riko ketawa. “Jujur, gue nggak tau. Tapi klien gue puas. Mereka balik lagi. Buat gue, itu yang penting. Mungkin buat desainer senior, desain gue jelek. Tapi pasar gue bukan mereka.”

Gue tanya: “Lo nggak pernah merasa insecure bersaing sama lulusan DKV?”

“Nggak juga. Mereka main di level berbeda. Mereka bisa dapet klien besar, perusahaan gede, proyek mahal. Gue main di level kecil-kecilan. Pasar kita beda. Tapi ya gitu, di level bawah, kita banyak banget.”

Momen jujur: “Sebenernya gue pengen belajar desain beneran. Tapi ya gitu, orderan rame, nggak sempet. Mungkin nanti kalau udah punya duit, gue ambil kursus atau kuliah.”

Statistik: Menurut Riko, di marketplace jasa desain, 70% penjual adalah desainer otodidak yang mengandalkan template. Harga rata-rata 50-200 ribu per project.


Kasus #3: Mas Rudi (40, Creative Director di Agency Besar) — “Lulusan DKV Jangan Main di Harga, Main di Kualitas”

Mas Rudi udah 15 tahun di industri kreatif. Dari bawah, sekarang jadi creative director di salah satu agency terkemuka.

“Gue denger keluhan adik-adik DKV: ‘Kalah saing sama desainer Canva.’ Gue cuma bisa bilang: mereka main di ranah yang beda.”

Mas Rudi jelasin:

“Desainer Canva itu main di pasar massal. UMKM, anak muda, proyek kecil. Mereka butuh desain cepet, murah, dan ‘cukup bagus’. Canva memang solusi buat mereka.

Tapi lulusan DKV itu main di ranah yang lebih tinggi. Brand besar, perusahaan multinasional, proyek strategis. Mereka butuh desain yang nggak cuma bagus, tapi juga punya strategi, riset, dan konsep kuat. Itu nggak bisa dihasilkan template.”

Gue tanya: “Tapi banyak lulusan DKV yang kesulitan dapet kerja di level itu.”

“Iya, karena industri itu sempit. Nggak semua bisa masuk. Tapi solusinya bukan turun ke level bawah dan bersaing harga dengan desainer Canva. Itu jalan buntu. Solusinya: naikkan skill lo, supaya layak main di level atas.”

Mas Rudi kasih analogi:

“Bayangin lo arsitek. Lo belajar 5 tahun, ngerti struktur bangunan, estetika, regulasi. Tapi lo kalah saing sama tukang bangunan yang bisa bikin rumah sederhana pake template. Apakah lo harus jadi tukang bangunan? Nggak. Lo harus jadi arsitek yang lebih baik, yang ngerjain gedung-gedung besar.”

Pesan penting: “Lulusan DKV jangan ngeluh. Tunjukkan value lo. Jual ilmu, bukan cuma gambar. Jual strategi, bukan cuma estetika. Klien besar butuh itu, dan mereka bayar mahal.”

Data point: Di agency tempat Mas Rudi bekerja, gaji junior desainer mulai 7-10 juta. Senior bisa 20-30 juta. Tapi mereka nggak pernah pake template Canva untuk klien besar.


Kasus #4: Bu Dewi (50, Pengamat Industri Kreatif) — “Ini Disrupsi, Bukan Akhir Zaman”

Bu Dewi ngamati industri kreatif selama 20 tahun. Dia lihat banyak perubahan.

“Dulu, sebelum Canva, orang harus belajar software mahal kayak Photoshop dan Illustrator. Butuh waktu, butuh uang. Sekarang? Canva gratis, mudah, dan template-nya banyak. Ini demokratisasi desain.”

Tapi Bu Dewi bilang, ini bukan akhir buat desainer profesional.

“Setiap kali ada teknologi baru yang memudahkan, selalu ada yang khawatir. Dulu, waktu kamera digital muncul, fotografer khawatir. Waktu smartphone bisa foto bagus, mereka khawatir lagi. Tapi fotografer profesional tetap ada. Yang mati adalah fotografer biasa-biasa saja.”

Gue tanya: “Apa yang harus dilakukan lulusan DKV?”

“Naikkan level. Jangan jadi tukang desain yang cuma nge-eksekusi. Jadilah konsultan kreatif yang ngasih solusi. Klien nggak cuma butuh gambar bagus. Mereka butuh desain yang bisa ningkatin penjualan, yang bisa ngomong ke target pasar, yang punya cerita. Itu nggak bisa dikasih template.”

Bu Dewi kasih saran keras:

“Kalau lo cuma jago make tools, lo akan mati. Karena tools makin canggih, makin mudah. Tapi kalau lo jago mikir, lo akan selalu dibutuhkan. Karena mikir itu nggak bisa di-template.”

Momen refleksi: “Saya lihat banyak lulusan DKV yang galau. Mereka merasa 4 tahun kuliah sia-sia. Padahal nggak. Ilmu mereka itu fondasi. Tapi mereka harus naik satu level: dari ‘desainer’ jadi ‘pemikir desain’.”

Statistik: Menurut riset industri, permintaan desainer strategis (yang bisa ngasih solusi bisnis) naik 25% per tahun. Sementara permintaan desainer teknis (yang cuma nge-eksekusi) stagnan.


Kenapa Desainer Canva Bisa Bersaing?

Dari obrolan sama mereka, gue dapet beberapa alasan:

1. Harga Jauh Lebih Murah

Desainer Canva bisa jual desain 50-200 ribu karena prosesnya cepet. Tinggal pilih template, ganti teks, ganti gambar, jadi. Nggak perlu riset, nggak perlu sketsa, nggak perlu revisi berulang. Marginnya kecil, tapi volume banyak.

2. Kecepatan

Klien UMKM biasanya butuh cepet. “Buat feed Instagram buat besok.” Desainer Canva bisa selesai 1 jam. Lulusan DKV mungkin butuh setengah hari buat riset dulu. Di situ, kecepatan menang.

3. Aksesibilitas

Canva bisa dipake siapa aja, di mana aja, gratis. Nggak perlu beli software mahal, nggak perlu spesifikasi komputer tinggi. Ini bikin banyak orang bisa jadi “desainer”.

4. Template yang Terus Berkembang

Canva punya jutaan template, dengan kualitas visual yang makin hari makin bagus. Desainer pemula tinggal pilih, dan hasilnya sudah “cukup profesional” di mata awam.

5. Ekspektasi Pasar Rendah

Banyak klien kecil nggak peduli soal teori desain. Mereka cuma butuh sesuatu yang keliatan rapi, warna cerah, dan ada gambar. Canva bisa kasih itu semua.


Tapi… Ini Kelemahan Desain Canva

Jangan salah paham. Desain Canva punya batasan:

1. Semua Desain Mirip

Karena pake template yang sama, desain-desain Canva sering keliatan mirip. Nggak punya identitas unik. Buat brand yang serius, ini masalah.

2. Nggak Ada Riset dan Strategi

Desain Canva cuma eksekusi visual. Nggak ada riset audiens, nggak ada strategi branding, nggak ada pertimbangan psikologis. Buat proyek serius, ini nggak cukup.

3. Terbatas Secara Teknis

Ada batasan-batasan di Canva yang nggak bisa diakali. Efek tertentu, manipulasi foto kompleks, tipografi custom—semua itu nggak bisa maksimal di Canva.

4. Gampang Ditinggal Klien

Klien yang pake desainer Canva biasanya nggak loyal. Ganti desainer gampang, karena nggak ada ikatan emosional atau strategis. Yang penting murah dan cepet.

5. Nggak Bisa Naik Kelas

Brand besar nggak akan pernah pake desainer Canva buat kampanye nasional. Mereka butuh desainer yang ngerti bahasa mereka, yang bisa bikin konsep, yang bisa jadi mitra strategis.


Common Mistakes: Yang Sering Salah Dilakuin Lulusan DKV

1. Bersaing di harga dengan desainer Canva
Itu perang yang nggak akan lo menangi. Mereka bisa jual lebih murah karena prosesnya cepet. Lo harus jual value, bukan harga.

2. Meremehkan Canva
“Nggak mau pake Canva, itu buat yang nggak bisa desain.” Padahal Canva bisa jadi alat bantu yang powerful. Banyak desainer profesional pake Canva buat mockup atau ide cepat.

3. Cuma jual gambar, bukan solusi
Klien butuh desain yang ningkatin penjualan, yang bikin brand mereka dikenal. Kalau lo cuma kasih gambar, lo gampang diganti. Kalau lo kasih strategi, lo jadi mitra.

4. Nggak update skill
Dulu belajar Photoshop, sekarang harus belajar AI, belajar motion, belajar UX/UI. Industri berubah. Kalau lo berhenti belajar, lo akan tertinggal.

5. Nggak punya niche
Desainer generalis susah bersaing. Tapi desainer yang fokus di satu bidang (misal: branding makanan, desain kemasan, UI/UX) punya value lebih.

6. Nunggu kerjaan datang
Di industri kreatif, lo harus jemput bola. Bikin portfolio online, aktif di media sosial, follow up klien, nawarin jasa. Jangan cuma ngirim lamaran.


Practical Tips: Cara Bertahan (dan Menang) di Era Canva

Buat lo lulusan DKV yang lagi galau, ini tips dari Mas Rudi, Bu Dewi, dan pengalaman mereka:

1. Upgrade dari “desainer” jadi “konsultan kreatif”
Jangan cuma jual desain. Jual solusi. Tanya klien: “Tujuan lo apa? Target pasar lo siapa? Mau ngomong apa?” Dari situ, kasih strategi, baru desain.

2. Kuasai skill yang nggak bisa di-template

  • Motion graphics: animasi, video, efek visual. Canva terbatas di sini.
  • UX/UI design: desain aplikasi dan website. Butuh riset dan testing.
  • Brand strategy: positioning, brand voice, identitas visual menyeluruh.
  • Creative direction: ngatur konsep besar, bukan cuma eksekusi.

3. Bangun personal branding
Bikin portfolio yang kuat. Tunjukin proses, bukan cuma hasil. Ceritain riset lo, sketsa, revisi, dan hasil akhir. Itu yang ngebuktiin lo beda dari desainer template.

4. Fokus di niche tertentu
Jangan jadi desainer serba bisa. Pilih satu bidang: desain kemasan makanan? Branding fashion? UI/UX fintech? Di niche itu, lo bisa jadi expert dan dibayar mahal.

5. Jaringan, jaringan, jaringan
Kenalan sama orang industri. Ikut event desain. Aktif di komunitas. Banyak kerjaan dateng dari referensi, bukan dari lamaran.

6. Gunakan Canva sebagai alat, bukan musuh
Belajar Canva itu nggak salah. Banyak desainer profesional pake Canva buat bikin moodboard, presentasi ke klien, atau mockup cepet. Tools is tools.

7. Tetap belajar
Industri desain berubah cepet. Ikut kursus, baca buku, nonton tutorial, ikut perkembangan AI dan tools baru. Yang berhenti belajar, akan mati.

8. Hargai dirimu sendiri
Jangan jual diri murah. Klien yang cari desain 50 ribu, bukan target lo. Fokus ke klien yang ngerti value desain dan mau bayar mahal.


Kesimpulan: Bukan Canva Lawan DKV, Tapi Desainer Biasa Lawan Desainer Luar Biasa

Pulang dari ngobrol sama Sasa, Riko, Mas Rudi, dan Bu Dewi, gue duduk sambil mikir.

Canva itu nggak salah. Dia alat. Dia memudahkan banyak orang buat bikin desain. Tapi dia juga nggak bisa gantiin desainer beneran. Karena desainer beneran itu bukan cuma soal make tools, tapi soal mikir.

Mas Rudi bilang sesuatu yang ngena:

“Di agency, kami nggak nyari orang yang jago Photoshop. Kami nyari orang yang jago mikir. Yang bisa kasih ide segar, yang bisa baca situasi, yang bisa ngasih solusi kreatif. Tools bisa dipelajari 3 bulan. Tapi cara mikir? Butuh tahunan.”

Bu Dewi nambahi:

“Jangan takut sama Canva. Takutlah sama diri sendiri kalau lo berhenti belajar. Karena yang akan mati bukan desainer, tapi desainer yang biasa-biasa aja. Yang luar biasa, tetap dicari.”

Sasa, di akhir obrolan, bilang:

“Gue sekarang lagi belajar motion graphics. Sambil buka jasa branding kecil-kecilan. Nggak banyak, tapi cukup buat hidup. Dan gue tetap nggak pake Canva buat desain utama. Tapi buat moodboard, iya.”

Riko, si desainer Canva, punya pesan:

“Gue salut sama lulusan DKV. Mereka punya ilmu yang gue nggak punya. Tapi mereka harus mau turun dikit, atau naik jauh. Jangan di tengah-tengah. Di tengah-tengah itu yang paling sakit.”

Mungkin itu jawabannya. Bukan perang antara Canva dan DKV. Tapi antara desainer yang puas jadi “tukang template” dan desainer yang terus berkembang jadi “pemikir kreatif”.

Lo mau jadi yang mana?


Lo sendiri gimana? Lulusan DKV yang lagi galau? Atau desainer Canva yang merasa terancam? Atau punya cerita lucu/sedih soal industri desain? Tulis di komen, gue baca satu-satu. Siapa tau dari diskusi ini, kita bisa nemuin jalan tengah.

Anda mungkin juga suka...