Desainer Kelaparan: Klien Lebih Pilih 'Prompt Master' AI dengan Bayaran 10%, Gelar DKV Kini Dianggap Jadul?
Uncategorized

Desainer Kelaparan: Klien Lebih Pilih ‘Prompt Master’ AI dengan Bayaran 10%, Gelar DKV Kini Dianggap Jadul?

Mereka Bayar 500 Ribu, Lo Dapat 5 Juta. Tapi Sekarang Klien Lebih Milih yang 500 Ribu.

Gue ngobrol sama seorang desainer senior minggu lalu. Matanya merah. “Udah tiga bulan nggak dapet project besar,” katanya. Klien lamanya bilang, “Maaf ya, budgetnya cuma cukup buat jasa prompt master AI.” Bayangin. Lo yang belajar teori warna, layout, tipografi bertahun-tahun, kalah sama orang yang cuma jago ngetik kata-kata.

Ini bukan lagi soal efisiensi. Ini perang harga. Sebuah survei di forum desainer lokal nunjukkin 7 dari 10 desainer merasa tarif mereka dipotong lebih dari 40% dalam setahun terakhir. Alasannya selalu sama: “Ada yang bisa bikin lebih murah pake AI.” Lalu kita harus apa? Nyerah? Atau bertaruh bahwa nilai kemanusiaan dalam desain itu masih ada harganya?


Studi Kasus #1: Nina & Proposal Logo yang Ditolak Mentah-mentah

Nina (28), desainer branding. Klien minta logo untuk produk kopi kekinian. Seperti biasa, dia susun moodboard, riset kompetitor, buat 3 konsep arah kreatif dengan penjelasan filosofi di balik setiap garis dan warna. Dia kasih harga 8 juta untuk paket lengkap. Ditolak.

Dua minggu kemudian, dia liat Instagram kliennya udah pake logo baru. Desainnya… cukup menarik. Minimalis, clean. Tapi mirip banget dengan style yang lagi tren di Dribbble. Ternyata, kliennya hire seorang prompt master dengan bayaran 800 ribu. Cuma modal deskripsi “logo for modern coffee shop, minimalist, warm brown, san serif, vector, trending on dribbble”. Hasilnya 10 opsi dalam 2 jam. Klien pilih satu, edit dikit, jadi.

Apa salah Nina? Nggak. Tapi di mata klien yang cuma butuh “yang bagus dan cepat”, proses kematangan Nina kalah telak dengan kecepatan AI.

Common Mistakes Desainer yang Bikin Lo Tenggelam:

  • Cuma Jual “Desain Jadi”. Kalo lo cuma kasih PNG atau JPG, ya lo bisa diganti mesin. Lo nggak jual proses berpikir, riset, atau strategi.
  • Diam Saja Waktu Klien Bilang “AI lebih Murah”. Nggak coba jelasin value bedanya. Nggak kasih contoh buruknya desain AI (misal: font proprietary, ilustrasi aneh, konsistensi brand yang nol).
  • Malu Atau Gengsi Gunakan AI dalam Proses Kerja. Ini justru senjata makan tuan. Lo bisa pake AI sebagai moodboard generator atau alat eksplorasi konsep awal, biar lo lebih cepat juga. Tapi jangan jadikan itu produk akhir.

Apa Itu ‘Prompt Master’ dan Kenapa Mereka Bisa Jual 10% dari Harga Lo?

Jangan bayangkan prompt master ini ahli sihir. Mereka pada dasarnya translator. Translator yang bisa ubah keinginan abstrak klien (“yang estetik, ya”) menjadi string teks yang dimengerti mesin. Skill mereka adalah mencoba-coba (trial and error) dan punya database prompt yang luas.

Tapi di situlah batasnya. Mereka nggak bisa:

  1. Bikin sistem desain (design system) yang konsisten untuk seluruh brand.
  2. Ngerti konteks budaya atau audiens spesifik lokal. (AI bakal gambar orang minum kopi dengan model Kaukasia, bukan anak muda Jakarta.)
  3. Melakukan problem solving desain yang kompleks. Misal, meningkatkan konversi di landing page dengan prinsip UX tertentu.
  4. Bertanggung jawab secara hukum atas pelanggaran hak cipta atau font yang dihasilkan AI.

Nah, di sinilah pertaruhan nilai kemanusiaan kita. Klien yang hanya butuh “benda” akan pilih prompt master. Tapi klien yang butuh “solusi” untuk masalah bisnis, butuh partner yang bisa mikir, analisis, dan bertanggung jawab. Butuh desainer manusia.


Studi Kasus #2: Ardi yang Malah Naik Tarif karena Positioning yang Tepat

Ardi (35), desainer UX. Dia juga kena dampak. Tapi responnya beda. Di portofolio dan proposalnya, dia sekarang jelas banget nulis: “Saya bukan hanya membuat visual. Saya menyelesaikan masalah komunikasi bisnis Anda dengan penelitian dan strategi.”

Dia pake AI. Tapi dengan transparan. “Saya menggunakan AI untuk eksplorasi visual awal, menghemat waktu riset kami 2 hari. Waktu dan budget yang saya hematkan akan saya alokasikan untuk melakukan usability testing dengan 5 user target Anda.”

Hasilnya? Klien-klien yang cari quick fix pada kabur. Tapi klien-klien serius yang punya masalah bisnis nyata malah datang. Tarif Ardi justru naik 25%. Karena dia nggak jual gambar. Dia jual problem-solving skill dan risk mitigation.

Tips Actionable Buat Lo (Mulai Sekarang Juga):

  1. Shift Penawaran: Jangan jasa “bikin logo”. Tapi tawarkan “Audit Identitas Visual & Penyusunan Strategi Branding”. Letakkan proses dan pemikiran di depan, visualnya jadi output akhir.
  2. Edukasi Klien Potensial: Bikin konten singkat (reels atau carousel) yang jelasin perbedaan output AI vs desainer manusia. Kasih contoh nyata. Misal, “Ini logo dari AI, keren kan? Tapi coba kita lihat fontnya: ternyata font berbayar yang nggak ada lisensi komersial. Kalau dipakai, Anda bisa kena klaim.”
  3. Jadi Konduktor, Bukan Pemain Tunggal: Kuasai AI tools. Jadikan dia anggota tim virtual lo. Tapi posisikan lo sebagai art director atau creative lead yang punya visi akhir dan bertanggung jawab.

Lalu, Gelar DKV Sekarang Nggak Ada Artinya?

Bukan nggak ada arti. Tapi definisi “keahlian” lagi berubah drastis. Gelar DKV dulu mengajarkan craftsmanship (keahlian membuat). Sekarang, craftsmanship itu bisa dibantu mesin.

Yang nggak bisa diajarkan mesin adalah: empati, konteks budaya, naluri bisnis, kemampuan bernegosiasi, dan tanggung jawab moral atas sebuah karya. Itu nilai kemanusiaan yang harus lo tonjolin. Gelar lo adalah bukti lo dilatih untuk berpikir sistematis, bukan cuma ngeklik mouse.

Industri lagi memisah: di satu sisi ada pasar komoditas (desain cepat, murah, templatisan). Di sisi lain ada pasar konsultasi (desain strategis, bernilai, solutif). Lo mau main di mana?


Kesimpulan: Jangan Lawan Teknologi, Lawan Mindset Komoditisasi

Desainer versus prompt master ini perang yang salah. Musuhnya bukan teknologinya. Tapi pola pikir bahwa desain adalah commodity (barang dagangan) yang bisa diperbandingkan harganya per kilo.

Tugas kita sekarang adalah mendidik pasar. Ngasih tau bahwa yang mereka beli dari kita bukan cuma sebuah gambar. Tapi adalah jam terbang, keputusan yang terinformasi, pengurangan risiko, dan sebuah kemewahan bernama human touch—sentuhan yang mengerti bahwa desain adalah soal menyampaikan perasaan, bukan hanya informasi.

Lo pilih yang mana? Tetap berjualan gambar di pasar komoditas yang harganya terus dipukul rata, atau naik kelas menjadi konsultan strategis yang nilainya nggak tergantikan mesin?

Gue yakin lo bisa, kok. Asal nggak cuma ngeluh di grup Telegram. Tapi action. Ubah penawaran. Ubah cara komunikasi. Let’s fight back, with our human value.

Anda mungkin juga suka...